Pemkab Blora Gelar Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk dalam Peringatan Harganas 2025, Tekankan Pentingnya Keluarga Berkualitas

RADARBLORA.COM,– Dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-32, Pemerintah Kabupaten Blora melalui Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan, dan Keluarga Berencana (Dalduk dan KB) menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk di area eks Pasar Induk Blora, Jumat malam 1 Agustus 2025. Acara ini menarik minat ribuan warga yang memadati lokasi sejak petang, menyaksikan pertunjukan yang sarat pesan pembangunan keluarga.

Bacaan Lainnya

Pagelaran wayang kulit ini menghadirkan dalang kondang asal Semarang, KRT. H. Ketut Budiman Pangrekso Kondhodipuro, ST., MT., yang membawakan lakon “Sang Pamong Sejati”. Melalui seni tradisional, pemerintah menyisipkan pesan penting tentang pembangunan keluarga sehat, pengendalian penduduk, dan pencegahan pernikahan dini.

Wayang Sebagai Media Edukasi Keluarga.
Kepala Dinas Dalduk dan KB Kabupaten Blora, Achmad Nur Hidayat, SH, M.Si, MM, menjelaskan bahwa pagelaran ini bukan sekadar hiburan, melainkan sarana edukasi yang efektif.

“Wayang adalah media budaya yang sarat nilai. Kami ingin menyampaikan pesan penting soal pentingnya membangun keluarga sehat dan berkualitas melalui pertunjukan yang dekat dengan masyarakat,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kualitas dan produktivitas keluarga menjadi pilar utama pembangunan daerah. Melalui program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana), pemerintah terus mendorong edukasi, penyuluhan, dan layanan terpadu terkait keluarga berencana serta kesehatan reproduksi.

Pengendalian Penduduk dan Pencegahan Pernikahan Dini. 
Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Penggerakan Disdalduk KB Blora, Anton Suwoto, menegaskan pentingnya pengendalian pertumbuhan penduduk untuk menciptakan masyarakat sejahtera.

“Pertumbuhan penduduk yang seimbang, di mana angka kelahiran mendekati angka kematian, penting untuk memastikan keseimbangan sumber daya. Program KB menekankan ‘dua anak cukup’, agar keluarga lebih mudah mengatur kesejahteraan,”* jelasnya.

Anton juga menyoroti pentingnya edukasi remaja guna mencegah seks pranikah, pergaulan bebas, dan pernikahan dini. Ia mengingatkan panduan BKKBN bahwa usia ideal menikah adalah minimal 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki, sebagai usia yang dinilai matang secara fisik, emosional, dan ekonomi.

“Dengan pendekatan ini, kita berharap terwujud keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah yang tak hanya harmonis secara spiritual, tapi juga mandiri dan produktif secara ekonomi,” tambahnya.

Antusiasme Masyarakat dan Layanan Terpadu. 
Selain pertunjukan wayang, acara ini juga dirangkai dengan penyuluhan program Bangga Kencana serta layanan kesehatan keluarga yang terbuka bagi seluruh warga. Antusiasme masyarakat terlihat tinggi, dengan ribuan penonton bertahan hingga pagi.

“Keluarga yang berkualitas adalah modal utama kemajuan bangsa. Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun keluarga yang sehat, cerdas, dan sejahtera,” ucapnya.

Kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana seni tradisional dapat dimanfaatkan sebagai sarana sosialisasi kebijakan publik, sekaligus melestarikan budaya lokal. Diharapkan, pesan-pesan pembangunan keluarga yang disampaikan melalui wayang dapat lebih mudah diterima dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. (YS)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *