RADARBLORA.COM,– Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mencatat pencapaian luar biasa dalam peningkatan produksi padi berkat program sekolah lapang yang digagas Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) setempat. Dari rata-rata 5 ton gabah kering panen (GKP) per hektar, produktivitas petani lokal melonjak menjadi 8,2 ton GKP/ha—sebuah terobosan yang disebut berdampak signifikan pada kesejahteraan petani.
“Alhamdulillah, hasil ini melebihi ekspektasi. Dengan harga gabah Rp6.500/kg, pendapatan petani meningkat drastis,” ungkap Kepala DP4 Blora, Ngaliman S.P., MMA, dalam Acara Farm Field Day 2025 di Desa Gayam, Kecamatan Bogorejo, Rabu 30 Juli 2025.
Kadinas DP4 Blora Ngaliman, yang akrab disapa Alim, juga menyampaikan apresiasi kepada para penyuluh pertanian sebagai “gudang ilmu” bagi petani. Keberhasilan ini, menurutnya, tidak lepas dari pendampingan intensif dan adopsi teknologi tepat guna.
Dukungan Alsintan dan Visi Blora sebagai Kabupaten Organik.
Pemerintah pusat turut mendukung kemajuan pertanian Blora melalui pengadaan alat mesin pertanian (alsintan) seperti traktor dan combine harvester pada tahun depan.
“Kami mendorong kelompok tani mengajukan proposal. Jika datanya lengkap, realisasinya cepat,” tegas Alim.
Lebih jauh, Blora sedang mempersiapkan diri menjadi kabupaten organik pertama di Indonesia. Rencana ini diinisiasi Bupati Dr. Arif Rohman dengan mengembangkan 10 desa percontohan organik, memanfaatkan kotoran ternak untuk pupuk, serta menggalakkan Gerakan Pengembangan Buah Lokal Nusantara (Gerbang Gelora).
“Pertanian organik tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga bisa mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia seperti urea. Produk lokal Blora, seperti alpukat dan kelengkeng, sudah terbukti berkualitas dan laris di pasar,” jelas Alim
Ia mencontohkan, satu pohon alpukat di Tunjungan bisa menghasilkan Rp2,5 juta—jika petani memiliki lima pohon unggul, pendapatannya sangat menjanjikan.
Inovasi Blora Jadi Rujukan Nasional.
Keberhasilan Blora dalam inovasi pertanian bahkan menginspirasi daerah lain. Provinsi Sumatera Selatan disebut telah mengadopsi program kotak ternak untuk pupuk organik, dengan lebih dari 1.000 petani menerapkannya.
“Kami akan mengadakan lomba pembuatan kotak ternak dan memberi penghargaan kepada kepala desa berprestasi di bidang ketahanan pangan,” tambah Alim.
Dengan semangat kolaborasi antara petani, penyuluh, dan pemerintah, Blora optimistis menjadi model pertanian berkelanjutan nasional. “Ini bukti bahwa pembangunan pertanian bisa inklusif dan berorientasi lingkungan,” pungkasnya. (YS)








