RADARBLORA.COM,– Kabupaten Blora memberikan pelajaran berharga tentang transformasi digital yang berdampak langsung pada keuangan daerah. Penerapan sistem parkir elektronik (e-parkir) di Pasar Sido Makmur bukan sekadar modernisasi, tapi terbukti menjadi senjata ampuh memberantas inefisiensi dan kebocoran anggaran, sekaligus melambungkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga 800 persen.
Data yang dirilis Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Dindagkop UKM) Kabupaten Blora sungguh mencengangkan. Sebelum digitalisasi, penerimaan parkir harian hanya berkisar Rp 1,1 juta. Setelah e-parkir diterapkan, angka itu melonjak drastis menjadi rata-rata Rp 10 juta per hari. Dalam setahun, total pendapatan parkir di pasar tersebut mencapai hampir Rp 2 miliar.
“Ini bukan hanya soal kenaikan, tapi pembuktian betapa sistem manual rentan terhadap distorsi data dan potensi pungutan liar (pungli),” tegas Kepala Dindagkop UKM Kabupaten Blora, Kiswoyo.
Lonjakan fantastis ini, menurut Kiswoyo, sekaligus melampaui target harian yang semula dipatok Rp 7-8 juta. “Fakta ini menunjukkan, ada potensi pendapatan yang selama ini ‘hilang’ atau tidak terkalkulasi dengan baik,” ujarnya.
Mengungkap “Lubang Hitam” Parkir Manual.
Kiswoyo mengakui, sebelum e-parkir, pengelolaan parkir di Pasar Sido Makmur sarat masalah: jumlah petugas tak terdata jelas, penataan kendaraan semrawut, dan keluhan pengunjung yang kerap dibebani biaya berkali-kali. “Sistem manual itu seperti ‘lubang hitam’ transparansi. Sulit diawasi, mudah diselewengkan,” paparnya.
Dengan e-parkir, semua transaksi tercatat real-time dalam dashboard digital. Setoran masuk langsung dan utuh (bruto) ke kas daerah, memotong mata rantai yang berpotensi menyebabkan kebocoran. “Tidak ada celah lagi untuk ‘main kucing-kucingan’. Semua transparan dan akuntabel,” tambah Kiswoyo.
Antisipasi Kendala dan Masa Depan.
Meski sukses, penerapan e-parkir sempat diuji dengan kendala teknis seperti pemadaman listrik dan antrean. Pemerintah daerah mengklaim telah menyiapkan mitigasi, seperti genset dan penambahan pintu keluar, termasuk pintu cashless mandiri untuk roda dua.
Yang patut diapresiasi, nasib puluhan juru parkir lama tidak diabaikan. Mereka direposisi dan dilatih untuk mengoperasikan sistem baru, menjaga penghasilan sekaligus meningkatkan kompetensi.
Kesuksesan ini mengantar Pasar Sido Makmur menjadi pilot project yang akan direplikasi. Tahun ini, sistem serupa akan diimplementasikan di tiga pasar rakyat lainnya di Blora, memperkuat visi Smart City sekaligus memperluas basis penerimaan negara yang transparan.
Pesan Keras untuk Daerah Lain.
Kiswoyo menegaskan, keberhasilan ini adalah bukti nyata implementasi Perpres tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). “Ini bukti bahwa digitalisasi sektor publik, khususnya yang rentan seperti parkir, bukan pilihan tapi keharusan. Hasilnya langsung terasa di kas daerah,” tandasnya.
Masyarakat diajak berperan aktif dengan membayar parkir secara digital. “Setiap rupiah yang dibayar melalui sistem ini adalah kontribusi nyata warga untuk pembangunan Blora yang lebih modern dan bebas dari kebocoran,” pungkas Kiswoyo.
Dengan capaian spektakuler ini, Blora tidak hanya meningkatkan PAD, tetapi juga menancapkan panji-panji transparansi dan tata kelola keuangan daerah yang lebih bersih, memberikan contoh konkret bagi daerah lain di Indonesia. (RB)








