Merajut Sejarah dengan Hormat: Ziarah untuk Menjembatani Masa Lalu dan Masa Depan Blora

Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini, Ketua TP PKK Kab. Blora, Hj. Ainia Shalichah Arief Rohman bersama Pemkab Blora (foto dok: Pemkab Blora/Radar Blora)

RADARBLORA.COM,Dalam balutan khidmat dan kilau nostalgia, rombongan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora melakukan perjalanan ziarah menyentuh hati ke makam para mantan Bupati. Lebih dari sekadar ritual tahunan jelang Hari Jadi Kabupaten Blora ke-276, kegiatan ini menjadi napas penghubung antara estafet kepemimpinan masa lalu dan masa kini, membuktikan bahwa jasa para pendahulu tak pernah lekang oleh waktu.

Bacaan Lainnya
Yuk pasang Iklan

Di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara Yogyakarta, suasana haru menyelimuti para peziarah. Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini, didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Blora, Hj. Ainia Shalichah Arief Rohman, dengan penuh hormat menaburkan bunga di pusara Kolonel Inf. Purn. Soepadhi Joedodarmo, Bupati Blora periode 1973-1979.

“Mewakili Bupati Blora dan atas nama Pemkab Blora, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya. Beliau, Kolonel Inf. Purn. Soepadhi Joedodarmo, dimakamkan di tempat yang mulia ini,” ucap Wabup Sri Setyorini dengan suara bergetar penuh penghormatan.

Dalam renungannya, Wabup Sri Setyorini mengenang sosok Soepadhi sebagai pemimpin yang tegas dan berwibawa, namun penuh kesederhanaan. “Kesederhanaan itu pun tercermin pada putra-putrinya. Itulah luar biasanya Pak Joedodarmo,” kenangnya, menggambarkan warisan keteladanan yang tak ternilai.

Sambutan hangat dan penuh syukur datang dari keluarga almarhum. Herlambang, putra Soepadhi Joedodarmo, yang hadir didampingi adiknya, Wuri Utami, tak menyembunyikan kebahagiaannya.

“Terus terang, saya merasa bahagia dan terharu dengan kedatangan Bu Wakil Bupati dan Ibu Ketua PKK. Ini adalah penghargaan luar biasa bagi kami, keluarga besar Alm. Pak Soepadhi,” ungkap Herlambang dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih karena Pemkab Blora masih memperhatikan dan menghargai pemimpin yang pernah berjasa bagi daerah ini.”

Harapan agar tradisi ziarah ini terus berlangsung mengalir dari hati keluarga. Mereka juga menyampaikan doa terbaik untuk Blora. “Semoga Blora semakin maju dan berjaya. Itu juga harapan almarhum ayah kami dahulu, pembangunan harus terus berjalan, siapapun pemimpinnya,” tambah Herlambang.

Wuri Utami pun menyambung, “Selamat Hari Jadi Kabupaten Blora yang ke-276, semoga semakin maju, jaya, dan rakyatnya semakin sejahtera.” Dalam dialog penuh makna, terungkap sebuah fakta sejarah yang menyentuh: tanggal lahir Almarhum Bupati Soepadhi Joedodarmo adalah 11 Desember 1923, yang bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Blora. Sebuah kebetulan yang penuh makna, mengukuhkan ikatan batin antara sang pemimpin dengan daerah yang dipimpinnya.

Perjalanan ziarah tidak berhenti di Yogyakarta. Rombongan yang sama kemudian melanjutkan napak tilas ke TMP Kusuma Bhakti di Surakarta, untuk berdoa di makam Bupati Blora lainnya, Kolonel Inf. Purn. Srinardi.

Di gerbang pemakaman, rombongan disambut dengan keakraban oleh Sri Danujo (Nunung), putra almarhum Bupati Srinardi. “Terima kasih atas kunjungan Pemkab Blora. Ini adalah uri-uri semangat, menghidupkan kembali upaya pemimpin daerah dahulu dalam membangun Blora. Sosok Srinardi dikenal sebagai ‘Daendels-nya Blora’,” kenang Nunung, berharap semangat kepemimpinan ayahnya menginspirasi pembangunan Blora yang lebih makmur.

Sebelumnya, pada Kamis (20/11/2025), rangkaian ziarah telah dimulai dengan penuh khidmat di Kota Semarang dan Temanggung. Rombongan berdoa di makam Bupati Soekardi Hardjoprawiro, MBA (1989-1999) di TPU Salaman Moyo, dan Bupati Soekirno Sastro Dimejo (1960-1966) di TPU Jangkang. Perjalanan dilanjutkan ke Temanggung untuk ziarah ke makam Bupati H. Soemarno Tjokro Saputro, SH (1979-1989).

Rangkaian ziarah dan tabur bunga ini tidak hanya dilakukan di makam para mantan Bupati Blora, tetapi juga diperluas ke makam pahlawan nasional seperti Jenderal Sudirman dan Adi Soemarmo di TMP Kusumanegara Yogyakarta, menunjukkan komitmen yang mendalam untuk menghormati setiap jasa para pendahulu.

Dengan iringan doa dan lantunan tahlil dari tim Kemenag Blora, setiap prosesi ziarah dijalankan dengan khidmat. Tradisi tahunan ini telah menjelma menjadi lebih dari sekadar seremoni; ia adalah ritual pewarisan nilai, pengingat akan tanggung jawab, dan sutra emas yang menjahit erat sejarah dengan masa depan Blora. Sebuah pesan abadi bahwa membangun masa depan yang gemilang haruslah berangkat dari mengenang dan menghormati jejak-jejak kepemimpinan di masa lalu. (TK/RB)

Pos terkait

Yuk pasang IklanYuk pasang IklanYuk pasang IklanYuk pasang Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *