RADARBLORA.COM,– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora, Jawa Tengah, meluncurkan gerakan inovatif untuk mengendalikan inflasi dan menguatkan ketahanan pangan lokal. Gerakan bernama “Gemar Si Pangan” (Gerakan Pemanfaatan Pekarangan untuk Cegah Inflasi dan Ketahanan Pangan) ini secara khusus menyasar seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di wilayah tersebut, yang berjumlah sekitar 11.000 orang.
Bupati Blora, Arief Rohman, secara resmi meluncurkan gerakan yang digagas Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora ini. Ia mengapresiasi langkah strategis yang diawali dengan memanfaatkan pekarangan, baik di rumah dinas, kantor, maupun sekolah, untuk ditanami komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, terong, hingga tanaman buah dan ikan.
“Ketika para ASN di Blora sebanyak 11 ribu nanti menanam cabai, ini inflasi bisa terkendali sebagai upaya mendukung program ketahanan pangan juga. Kami akan perintahkan untuk menginstruksikan kepada seluruh ASN Blora agar memanfaatkan pekarangannya untuk ditanam cabai,” tegas Bupati Arief dalam peluncuran, Selasa (20/2/2024).
Lebih lanjut, Arief menjelaskan bahwa gerakan ini selaras dengan program pengendalian inflasi yang dipantau secara nasional oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
“Ini menjadi indikator untuk pertumbuhan inflasi. Jadi setiap Senin itu dipantau oleh Kemendagri, terlebih ini mau lebaran, kebutuhan cabai itu biasanya menjadi faktor penentu inflasi,” ujarnya menekankan pentingnya antisipasi lonjakan harga, terutama pada momen hari raya.
Imbauan Tegas hingga Sanksi.
Kepala DP4 Kabupaten Blora, Ngaliman, menyatakan bahwa inovasi ini bertujuan mengamankan pasokan pangan dari tingkat rumah tangga ASN. Gerakan yang kedepannya bahkan akan dilombakan ini diharapkan dapat menjadi gerakan massal yang produktif.
“Karena ada keterbatasan anggaran di dinas, maka masing-masing ASN diharapkan menganggarkan dan menanam secara mandiri. Di tengah keterbatasan, kami harus terus berinovasi,” jelas Ngaliman.
Ia menambahkan, dengan menanam sendiri, ASN dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus berkontribusi menstabilkan pasokan di pasar. Targetnya, gerakan ini menjadi inovasi unggulan daerah yang memobilisasi peran ASN.
Yang cukup disorot adalah himbauan tegas dari pimpinan daerah. Ngaliman mengungkapkan, Bupati memberikan arahan yang serius. “Malah himbauan dari bupati itu, jika tidak dipraktikkan oleh ASN, maka Tunjangan Kinerja (TPP) akan dipotong,” katanya, menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam implementasi program ini.
Strategi Antisipatif Hadapi Lonjakan Harga.
Gerakan “Gemar Si Pangan” dinilai sebagai langkah antisipatif yang konkret. Dengan mendorong 11.000 ASN—yang juga merupakan konsumen—untuk memproduksi sendiri kebutuhan pangan keluarga, diharapkan tekanan permintaan terhadap komoditas rentan inflasi seperti cabai di pasar tradisional dapat berkurang.
Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah pusat untuk mendorong ketahanan pangan berbasis rumah tangga dan komunitas. Keberhasilan gerakan ini di Blora akan menjadi perhatian, apakah model pemberdayaan ASN skala besar seperti ini dapat direplikasi di daerah lain untuk membantu stabilisasi harga pangan nasional. (RB)








