RADARBLORA.COM,– Di tengah kesibukan sebagai pemimpin daerah, Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman memilih peran yang lebih sederhana namun penuh makna pada Selasa 2 Juni 2026: menjadi seorang ayah yang hadir untuk putrinya.
Bersama ratusan orang tua lainnya, pria yang akrab disapa Gus Arief itu mengikuti prosesi Muwaadah (pelepasan) Kelas VI Madrasah Ibtidaiyah (MI) Khozinatul Ulum di Graha Nusantara. Namun di balik senyum dan kebanggaannya sebagai orang tua, sang bupati tengah menjalani ujian multitasking yang luar biasa.
Enam jam penuh ia “ngedep” istilah lokal untuk bekerja dengan laptop menemani di tengah hiruk-pikuk acara perpisahan. Bukan tanpa alasan. Di sela-sela memberikan dukungan kepada putri bungsunya yang naik panggung, Gus Arief juga harus mengikuti presentasi daring Penilaian Kompetensi Inovasi Daerah Jawa Tengah (IDEA Jawa Tengah) 2026.
“Mohon maaf apabila konsentrasi saya sedikit terbagi,” ucap Gus Arief kepada para hadirin dengan nada lugu namun mengharukan.
“Tapi saya tetap ingin hadir di sini. Karena selain sebagai Bupati, saya juga seorang ayah yang ingin memberikan semangat kepada anak saya dan seluruh siswa yang hari ini mengikuti muwaadah.”

Ucapan itu sontak membuat aula hening sejenak. Seorang kepala daerah yang tak rela melewatkan momen penting buah hatinya, meski tugas negara menuntut perhatian penuh.
Ketika Laptop Tak Pernah Mati Demi Dua Cinta.
Satu meja kecil di sudut ruangan menjadi “kantor dadakannya” selama setengah hari. Layar laptop menyala, headset menempel di telinga. Sesekali matanya beralih ke panggung tempat putrinya dan 102 siswa lain menerima doa restu.
Tak ada protokol yang diminta istimewa. Tak ada kursi khusus yang disiapkan panitia. Gus Arief membaur, seperti ayah-ayah lain yang datang dengan hati penuh haru.
“Ini bukan tentang saya. Ini tentang bagaimana kita memberi contoh bahwa keluarga dan tanggung jawab tak perlu dipisahkan,” katanya kemudian kepada wartawan usai acara.
Lulusan Madrasah Bisa Jadi Pemimpin.
Dalam sambutannya yang singkat karena waktu yang ia curi dari presentasi daring, Gus Arief justru menyampaikan pesan yang menggugah para siswa dan orang tua.
“Jangan malu sekolah di madrasah. Karena sekolah di madrasah itu keren,” tegasnya dengan senyum khas.
Ia sendiri adalah bukti hidup. Lulusan madrasah yang kini dipercaya memimpin Kabupaten Blora. Sebuah pesan yang langsung disambut tepuk tangan meriah para wali murid.
“Lulusan MI Khozinatul Ulum punya keunggulan, seperti hafalan Al-Qur’an dan lainnya. Ini tanda sekolah yang maju. Sekolah ini akan dilirik masyarakat ketika output-nya terbukti. Dan itu sudah dibuktikan,” tambahnya.
Haru Tangis Orang Tua.
Momen paling emosional terjadi saat Gus Arief, dengan suara bergetar, menyampaikan terima kasih kepada para guru yang telah membimbing putrinya selama enam tahun.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu guru yang telah mendidik anak perempuan saya selama enam tahun dengan sangat baik. Semoga anak-anak semuanya menjadi generasi sukses di masa depan.”
Beberapa orang tua di belakang terlihat menyeka air mata. Bukan hanya karena haru, tapi karena melihat seorang pemimpin daerah yang tetap rendah hati dan mengutamakan peran sebagai ayah.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Blora, H. Roziqun, turut memperkuat pesan itu. “Bupati Blora Arief Rohman ini dulunya lulusan madrasah. Jadi anak-anak semua jangan berkecil hati. Sekolah di madrasah juga bisa menjadi orang hebat.”
Inovasi Daerah Tak Terbengkalai.
Meski fokus utamanya adalah mendampingi putri, Gus Arief memastikan tugas sebagai kepala daerah tak terbengkalai. Presentasi IDEA Jawa Tengah 2026 yang ia ikuti secara daring adalah ajang kompetisi inovasi antardaerah. Kehadirannya vital untuk mempertahankan prestasi Blora sebagai kabupaten inovatif.
“Saya mohon maaf pada semua hadirin jika konsentrasi saya terbagi. Tapi saya berusaha memberikan yang terbaik untuk dua tanggung jawab yang sama-sama saya cintai: daerah dan keluarga,” ujarnya.
Salah satu guru yang enggan disebut namanya mengaku terharu melihat perjuangan sang bupati. “Beliau datang pagi, laptop menyala terus. Kadang minta maaf karena harus keluar sebentar untuk bergabung sesi daring. Tapi begitu ada nama putrinya dipanggil, beliau langsung fokus ke panggung. Matanya berkaca-kaca.”
Pesan untuk Para Lulusan.
Acara yang juga dihadiri Pengasuh PP Khozinatul Ulum Romo KH. Muharror Ali, Bunda Literasi Kabupaten Blora Hj. Ainia Shalichah, serta jajaran guru dan komite sekolah itu berlangsung khidmat.
Gus Arief menyampaikan bahwa para lulusan memiliki banyak pilihan melanjutkan pendidikan. Selain ke MTs Khozinatul Ulum, ke depan akan tersedia SMP Khozinatul Ulum yang izinnya sedang diproses.
“Ini inovasi Mbah Kyai Muharror. Atau bisa juga melanjutkan ke pondok pesantren maupun sekolah lainnya,” pungkasnya.
Hingga acara usai pada sore hari, laptop Gus Arief baru benar-benar bisa ditutup. Enam jam penuh ia membagi waktu antara cinta pada daerah dan cinta pada anak. Sebuah gambaran bahwa menjadi pemimpin tak berarti meninggalkan peran paling mendasar: sebagai orang tua.
Sebuah catatan dari Blora: Di era ketika banyak orang tua sibuk dengan gawainya sendiri, seorang bupati memilih untuk sibuk dengan laptopnya — demi anak-anaknya dan masa depan daerahnya. Keduanya, sama-sama tak ingin ia tinggalkan. (RB)











