RADARBLORA.COM,– Menyambut Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah, Pemerintah Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, mengawali langkah dengan cara yang berbeda. Bukan sekadar razia pasar atau imbauan kamtibmas, mereka justru memulainya dari doa.
Puluhan tokoh agama dan masyarakat berkumpul dalam sebuah forum refleksi spiritual yang digagas langsung oleh Camat Jepon, Andi Nurrohman. Dengan duduk bersama tanpa sekat, mereka memanjatkan doa dengan satu tujuan yang sama: memperkuat keimanan dan keharmonisan sosial menjelang Ramadan.
“Ini ikhtiar batin. Kami ingin Ramadan kali ini benar-benar terasa kehangatannya sejak hari pertama. Semua elemen, mulai dari LDII, Muhammadiyah, hingga tokoh lintas agama lain, kita rangkul semua,” ujar Andi saat ditemui di sela kegiatan Kamis (12/2/2026)
Ia menyebutkan, berdasarkan perkiraan pemerintah, 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu atau Kamis pekan depan. Maka momen jelang Ramadan ini, menurutnya, adalah waktu paling tepat untuk melakukan konsolidasi batin dan sosial.
Bukan Sekadar Seremonial.
Yang menarik, rangkaian kegiatan menyambut Ramadan di Jepon tidak berhenti pada doa bersama. Pemerintah kecamatan justru mengombinasikannya dengan aktivitas fisik dan konsolidasi lintas sektor.
“Kemarin kami gelar konferensi desa lintas sektor. Hari ini doa bersama. Besok pagi, kami ajak semua aparatur dan masyarakat olahraga bareng. Seimbang antara jiwa dan raga,” jelas Andi.
Menurutnya, pendekatan ini sengaja dipilih untuk membangun soliditas dari level paling bawah. Ia ingin kebersamaan tidak hanya dirasakan di masjid atau musala, tapi juga di lapangan.
“Kalau raga sehat, hati tenang, dan pikiran jernih, insyaallah Ramadan kita isi dengan energi positif. Yang paling penting, semua kompak,” imbuhnya.
Efek Domino dari Level Kecamatan.
Andi juga menegaskan bahwa kegiatan seperti ini adalah bentuk keteladanan birokrasi. Ia ingin praktik baik di tingkat kabupaten tidak berhenti di tengah jalan, melainkan terus mengalir hingga ke desa dan kelurahan.
“Kami di kecamatan harus kasih contoh dulu. Setelah ini, kami dorong teman-teman di desa untuk bikin gerakan serupa. Kalau gerakannya masif, efeknya luar biasa. Persatuan terbangun dari bawah,” tegasnya.
Menurutnya, persoalan di daerah kerap muncul bukan karena perbedaan, tapi karena minimnya komunikasi. Dengan rutin menggelar pertemuan lintas iman dan lintas sektor, ia optimistis potensi gesekan bisa ditekan.
“Intinya kami ingin bangun persatuan. Kalau warga sudah kompak, apa pun tantangannya jadi lebih ringan,” pungkas Andi.
Dengan pendekatan yang holistik menyatukan doa, dialog, dan olahraga Kecamatan Jepon menunjukkan bahwa menyambut Ramadan tidak melulu tentang persiapan teknis, tapi juga soal merawat kebersamaan. (YS)








