RADARBLORA.COM,– Heningnya malam di Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, berubah menjadi lautan magis dan semarak. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, panggung budaya lokal bergemuruh melalui gelaran Mapak Suro, sebuah kirab sakral yang melibatkan puluhan rombongan seni tradisional Barongan. Malam ini bukan sekadar pentas seni, melainkan momen kebangkitan jati diri yang sarat makna setelah sekian lama menjadi penonton di negeri sendiri.
Acara yang digelar pada Senin malam 15 Juni 2026 dimulai dengan ritual paling menggetarkan: Jamasan atau pembersihan tiga topeng Barongan kuno yang usianya menembus 125 tahun, tepatnya dari tahun 1901. Artefak hidup ini merupakan pusaka milik Sanggar Seni Singosari Budoyo yang selama ini tersimpan sebagai saksi bisu kejayaan masa lalu.
“Ada beberapa kesakralan yang kami tampilkan malam ini. Itu bukan sekadar tontonan, melainkan nilai budaya luar biasa yang menjadi akar filosofi Barongan Ngawen, Blora,” ujar Subagyo, Ketua Sanggar dan Reog Singosari Bodoyo.
Dari Penonton Menjadi Pusat Perhatian.
Selama ini, lanjut Subagyo, masyarakat Ngawen hanya bisa terpana menyaksikan kemeriahan Gerbek Suro di Ponorogo, Solo, hingga Keraton Kasunanan. Kini, mereka berdiri di atas panggung sendiri.
“Satu Suro adalah bulan penuh filosofi hati-hati. Kami tidak mau lagi jadi penonton di tanah kelahiran kami sendiri. Malam ini adalah deklarasi bahwa budaya Barongan, yang penuh dengan nilai kewaspadaan dan kebijaksanaan, hadir kembali untuk menguatkan jati diri kita,” tegasnya.
Safari Malam Sepanjang 2 Kilometer.
Kirab sepanjang 2 kilometer yang memadati jalur dari Jalan Sawahan, melintasi Terminal, hingga berputar di depan Kantor Kecamatan, menjadi pemandangan langka. Sebanyak 50 barongan dari berbagai desa diarak dengan iringan gamelan yang menghentak, menciptakan simfoni budaya yang membangkitkan semangat ribuan warga yang tumpah ruah di sepanjang jalan.
Warga tua dan muda berbaur, menjamah pusaka, dan larut dalam semangat gotong royong yang selama ini mendekam.
Mimpi Besar: Barongan Blora Mendunia.
Lebih dari sekadar euforia, malam Mapak Suro ini menjadi titik tolak perjuangan panjang. Panitia berharap acara ini tak berhenti di 2026, melainkan menjadi agenda tahunan kolaboratif yang melibatkan seluruh pelestari budaya di Blora.
“Kami ingin ada ‘Gerbek Barongan Satu Suro’ di Blora. Seperti halnya Ponorogo, kami bertekad ini menjadi agenda kabupaten,” harap Subagyo.
Harapan itu menguat seiring kabar bahwa Barongan Blora saat ini tengah dalam proses pendaftaran menuju pengakuan UNESCO.
“Kita doakan bersama, semoga Barongan Blora tercatat di UNESCO, seperti saudara tua kita, Reog Ponorogo. Ini bukan sekadar pengakuan, ini adalah bentuk perlindungan agar anak cucu kita masih bisa melihat dan bangga terhadap warisan leluhur,” imbuhnya.
Dengan antusiasme yang meluap, Ketua Panitia menutup malam bersejarah itu dengan pesan penuh haru. Ia berharap melalui dentuman Barongan, Ngawen Blora dapat melesat maju, masyarakatnya bersatu padu, dan semakin mencintai jati diri sebagai orang Jawa.
“Ini adalah nilai yang harus kita syukuri. Ini adalah momen di mana budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga menghidupkan kembali semangat kita,” tutupnya. (RB)











