Blora Bergetar: 60 Barong Meriahkan Suran Bolo Narashima di Dluwangan, Satukan Seniman Lintas Daerah

60 Barongan dari 5 Kecamatan dan 8 grub meriahkan Suran Bolo Barong Narashima, menyambut 1 Muharam 1478 Hijriah (foto dok: Y. Sunaryo/Radar Blora)

RADARBLORA.COM,Dentingan gamelan dan gemuruh sorak penonton menggema di Dukuh Dluwangan, Kelurahan Kauman, Kecamatan Blora, Minggu 5 Juli 2026. Sebanyak 60 barongan dari berbagai kelompok seni tradisional tampil megah dalam Pagelaran Suran Bolo Barong Narashima, menyambut 1 Muharam 1478 Hijriah dengan semarak yang sulit dilupakan.

Bacaan Lainnya
Yuk pasang Iklan

Bukan sekadar hiburan, pagelaran ini menjadi bukti nyata komitmen masyarakat dalam melestarikan barongan-warisan leluhur yang telah menjadi identitas Dukuh Dluwangan sejak zaman dahulu. Delapan grup barongan dari lima kecamatan di Kabupaten Blora tampil bergiliran dalam tujuh sesi pertunjukan, menampilkan total 60 barongan yang memukau ribuan pasang mata.

Menghidupkan Kembali Barongan Tua. 

Yang membuat acara ini istimewa adalah ditampilkannya sejumlah barongan tua peninggalan leluhur yang sarat nilai sejarah dan budaya. Barongan-barongan ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi kebanggaan warga Dukuh Dluwangan.

Ketua Panitia, Alwi Yahya, mengungkapkan bahwa pagelaran ini digelar sebagai bentuk komitmen masyarakat untuk nguri-uri budaya atau melestarikan warisan nenek moyang.

“Pagelaran ini kami selenggarakan untuk melestarikan barongan lama yang menjadi kebanggaan Dukuh Dluwangan. Selain itu, kami ingin menyatukan para seniman barongan dari berbagai wilayah di Blora agar tetap kompak dalam menjaga warisan budaya daerah,” ujar Alwi dengan penuh semangat.

Simbol Ruwatan dan Penghormatan Leluhur. 

Koordinator Acara Suran Bolo Barong Narashima, Mardhianta Tri Pamungkas, menjelaskan bahwa barongan tua milik Dukuh Dluwangan memiliki makna mendalam. Biasanya, barongan ini rutin ditampilkan dalam tradisi Sedekah Bumi pada bulan Selo di Punden Mbah Slamper, Kepyakan. Namun, pada bulan Suro atau Muharam, barongan kembali dihadirkan sebagai simbol ruwatan sekaligus bentuk penghormatan kepada para leluhur.

“Kegiatan ini tidak hanya bertujuan melestarikan kesenian tradisional, tetapi juga memberikan hiburan kepada masyarakat serta mendorong perputaran ekonomi warga melalui kehadiran pelaku UMKM,” tambah Tri.

Dukungan Penuh Warga dan Donatur. 

Terselenggaranya acara spektakuler ini tidak lepas dari gotong royong seluruh warga Dukuh Dluwangan dan dukungan para donatur. Antusiasme masyarakat terlihat dari padatnya pengunjung yang memadati lokasi acara sejak siang hingga malam hari.

Harapan untuk Pemerintah Daerah. 

Tri berharap Pemerintah Kabupaten Blora dapat memberikan perhatian lebih kepada kelompok-kelompok barongan yang terus berkembang di daerah. Menurutnya, pembinaan dan dukungan pemerintah sangat dibutuhkan agar kesenian barongan tetap lestari dan mampu berkembang mengikuti zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi.

“Harapan kami, pemerintah dapat memberikan pembinaan kepada grup-grup barongan di Blora. Melalui pagelaran seperti ini, kami ingin membangun persatuan antargrup barongan sekaligus menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan semakin memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal,” pungkasnya.

Pagelaran Suran Bolo Barong Narashima membuktikan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang usang, melainkan warisan hidup yang terus dijaga, dirayakan, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah gempuran modernisasi, barongan tetap menjadi denyut nadi budaya Blora yang tak pernah padam. (RB)

Pos terkait

Yuk pasang IklanYuk pasang Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *