RADARBLORA.COM,- Puluhan bantuan perbaikan rumah yang mengalir ke Desa Gagakan, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, tersimpan kisah pilu yang luput dari perhatian. Seorang nenek renta, Samijah (71), harus bertahan hidup sebatang kara di rumah yang nyaris roboh, sementara bantuan yang seharusnya menjadi haknya tak kunjung datang.
Mbah Samijah, begitu ia akrab disapa, telah menempati rumah tersebut sejak kecil. Dinding-dindingnya rusak, atapnya nyaris ambrol, dan bangunannya tak layak lagi disebut tempat tinggal. Namun di sanalah dirinya menghabiskan hari-hari tuanya sendiri, tanpa anak yang menemani, tanpa uluran tangan dari pihak Terkait yang menopang.
Kepala Kepolisian Sektor Sambong, AKP. Subardi, mengaku tak bisa menahan rasa prihatin saat melihat langsung kondisi Mbah Samijah.
“Saya ke situ saya juga prihatin, dengan kondisi mbahnya sendirian di rumah yang doyong itu,” ujarnya dengan nada berat saat meninjau lokasi, Jumat (11/9/2026).
AKP. Subardi menuturkan, dirinya mendapat arahan langsung dari Wakapolres Blora, Slamet Riyadi, untuk menindaklanjuti informasi tentang keberadaan lansia tersebut. Malam sebelumnya, ia ditelepon dan langsung menghubungi perangkat desa.
“Saya tadi malam ditelepon, kemudian menindaklanjutinya. Saya datang juga kaget, ternyata memang benar rumahnya nampak doyong,” tambahnya.
Namun, keprihatinan AKP. Subardi tak berhenti pada kondisi rumah. Ia juga terhenyak melihat kondisi keluarga yang tinggal di samping Mbah Samijah. Menantu perempuan lansia tersebut diduga mengalami depresi, sementara dua cucunya tampak mengalami kelumpuhan.
“Saya tadi ya prihatin, melihat kondisi menantunya itu dan dua anak terlihat lumpuh. Ini perlu perhatian khususlah dari berbagai pihak terutama desa,” tegasnya.
AKP. Subardi pun mendesak pemerintah desa segera mengupayakan bantuan bedah rumah untuk Mbah Samijah. Menurutnya, kondisi lansia itu sudah sangat memenuhi kriteria untuk menerima uluran tangan. “Ini perlu perhatian khusus,” ujarnya lagi.
SEJAK KECIL, KINI SENDIRI.
Mbah Samijah menuturkan, dirinya telah menempati rumah itu sejak kecil dan memiliki empat orang anak, namun tak satu pun yang tinggal bersamanya.
“Sejak kecil saya di sini. Anak saya empat, namun yang paling tua udah meninggal. Kini menantu saya depresi dan 2 cucu anak saya kembar itu cacat serta punya kakak yang sudah berkeluraga,” ungkapnya dengan mata sayu.
Lansia itu mengaku memang pernah menerima bantuan pemerintah. Namun untuk kebutuhan sehari-hari, ia harus memasak sendiri, mengurus dirinya sendiri, di rumah yang setiap saat bisa menimpa tubuh rentanya. “Kalau bantuan dapat, untuk kehidupan sehari-harinya saya masak sendiri,” tambahnya lirih.
BANTUAN MENGALIR, TAPI TAK SAMPAI.
Ironisnya, di desa yang sama, bantuan bedah rumah justru terus mengalir. Sekretaris Desa Gagakan, Joko, menyampaikan bahwa tahun lalu desa menerima 5 unit bantuan bedah rumah dari Bantuan Provinsi (Banprov). Tahun ini, warga kembali mendapat 11 unit bedah rumah dari usulan aspirasi.
Namun, nama Mbah Samijah tak ada dalam daftar. Rumah doyong yang telah ia tinggali sejak kecil itu seolah tak terlihat, tak terdengar, dan tak tersentuh.
Di tengah derasnya bantuan yang datang, Mbah Samijah tetap bertahan di sudut desa yang seakan terlupakan. Rumahnya miring, tapi nasibnya lebih sedih lagi. Ia tak meminta banyak hanya tempat yang aman untuk menutup usia, dan uluran tangan yang selama ini tak kunjung datang. (RB)
















