RADARBLORA.COM,- Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora mencatat pertumbuhan signifikan jumlah kelompok tani (Poktan) dalam tiga tahun terakhir. Hingga awal Oktober 2026, jumlah Poktan di Kabupaten Blora telah menembus 2.923 kelompok, atau bertambah hampir 3.000 kelompok dibandingkan periode sebelumnya.
Plt Bidang Penyuluhan DP4 Blora, Rosalia Diah Erawati, menegaskan bahwa sejak 2024 hingga 2026 jumlah kelompok tani bertambah sekitar 200 kelompok yang tersebar di 16 kecamatan.
“Pada tahun 2024, jumlah Poktan di Kabupaten Blora berjumlah 2.733 kelompok. Lalu pada tahun 2025 naik menjadi 2.869 kelompok. Sementara per awal Oktober ini mencapai 2.923 kelompok,” ujarnya, tegas.
Rosalia menjelaskan, data tersebut sebagian juga mencakup kelompok tani hutan (KTH). Namun ia menegaskan KTH yang masuk dalam data DP4 hanya sebagian kecil dan belum mencakup keseluruhan.
“Untuk klasifikasi, dibagi menjadi empat kelas, yaitu Poktan Pemula, Poktan Lanjut, Poktan Madya, dan Poktan Utama,” sambungnya.
DIPICU PEMECAHAN KELOMPOK.
Menurut Rosalia, lonjakan jumlah Poktan dipicu banyaknya kelompok tani yang memecah diri karena jumlah anggota yang sangat banyak. Bahkan hingga kini masih terdapat beberapa kelompok tani yang memiliki puluhan anggota hingga mendekati 100 anggota.
“Satu kelompok tani minimal beranggotakan 10 petani. Jadi bertambahnya itu banyak dari pemecahan, namun juga ada yang pembentukan baru,” katanya.
IRONI: AKSEN PUPUK SUBSIDI MENURUN.
Meski jumlah kelompok tani bertambah setiap tahun, DP4 Blora mencatat penurunan jumlah petani yang dapat mengakses pupuk bersubsidi. Rosalia mengakui angka tersebut fluktuatif dan tidak menentu.
Hingga saat ini, DP4 belum memiliki angka pasti jumlah petani di Kabupaten Blora. Namun merujuk catatan DP4, penurunan jumlah petani yang dapat mengakses pupuk subsidi mencapai 15.634 orang.
“Tahun 2025 jumlah petani di Kabupaten Blora berjumlah 188.148 orang. Namun angka tersebut menurun pada tahun 2026 yang berjumlah 172.514 orang,” tegasnya.
Sebagai informasi, kecamatan dengan sebaran petani terbanyak yang mampu mengakses pupuk bersubsidi berada di Kecamatan Randublatung dengan 18.594 petani, disusul Kecamatan Todanan 16.836 petani, dan Kecamatan Kunduran 14.505 petani.
Pertumbuhan kelompok tani yang pesat di satu sisi menunjukkan menguatnya kelembagaan petani. Namun di sisi lain, penurunan jumlah petani penerima pupuk subsidi menjadi persoalan serius yang menuntut perhatian pemerintah daerah. (RB)


















