RADARBLORA.COM,- Pengelolaan sumur minyak rakyat di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, kini menjadi perhatian nasional. Pelaku usaha dari Sumatera Selatan datang untuk mempelajari praktik pengelolaan sumur minyak rakyat di daerah tersebut sebagai bahan pengembangan di wilayah mereka.
Studi banding itu dilakukan oleh PT Keban Berkah Energi, salah satu UMKM asal Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Mereka meninjau langsung pengelolaan sumur minyak rakyat di Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, dan Desa Soko, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora.
PIC PT Keban Berkah Energi, Rezky Nugraha, saat di Blora, Selasa 15 September 2026 mengatakan pihaknya ingin mempelajari praktik pengelolaan sumur minyak rakyat di Blora, terutama bagaimana kegiatan produksi dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas masyarakat dan sektor pertanian.
“Praktiknya kurang lebih sama seperti di sini. Mulai dari peralatan produksi hingga peralatan keselamatan, semuanya sudah kami implementasikan sesuai standar,” ucapnya.
Menurut dia, hal yang menarik dari pengelolaan sumur minyak rakyat di Blora adalah keberadaan sumur produksi yang berada di sekitar kawasan produktif, termasuk lahan pertanian dan perkebunan.
“Kami tertarik melihat bagaimana lingkungan dan kegiatan pertambangan minyak bisa saling mengisi dan bersinergi tanpa mengganggu produktivitas satu sama lain,” ujarnya.
Ia menjelaskan PT Keban Berkah Energi saat ini mengelola sekitar 168 sumur yang beroperasi di Sumatera Selatan. Pihaknya juga telah memiliki kontrak dengan sejumlah pihak, termasuk Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), PT Metco, dan Pertamina, serta mengantongi perizinan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Rezky juga menyampaikan ketertarikan mempelajari pengelolaan sumur minyak rakyat di Blora juga didukung hubungan yang telah terjalin dengan pengelola sumur minyak rakyat setempat.
“Pertama, karena kami sudah memiliki koneksi dan hubungan baik. Kami juga merupakan teman lama dengan Mataram Connection Nusantara (MCN),” terangnya.
Selain hubungan antarpengelola, ia menilai pengalaman masyarakat Blora dalam mengelola sumur minyak rakyat menjadi salah satu hal yang menarik untuk dipelajari.
“Masyarakatnya sudah sangat mengerti bagaimana memproduksi minyak dari sumur masyarakat. Ini memberikan dampak langsung terhadap kedaulatan energi nasional,” ujarnya.
LEBIH DARI 400 SUMUR DI KELOLA MCN BLORA.
Sementara itu, Penanggung Jawab PT Mataram Connection Nusantara (MCN) Blora, Rony Mey Yudha, mengatakan pihaknya mengelola lebih dari 400 sumur minyak rakyat yang tersebar di Desa Gandu dan Desa Soko.
Untuk wilayah Soko, terdapat sekitar 80 sumur yang berproduksi, sedangkan 202 sumur telah terverifikasi. Produksi minyak dari sumur-sumur tersebut rata-rata mencapai sekitar 8.000 hingga 10.000 liter per hari.
Adapun di Desa Gandu, sebanyak 112 sumur telah terverifikasi. Dari jumlah tersebut, 16 sumur saat ini berproduksi dengan rata-rata produksi sekitar 30 liter per sumur per hari.
“Total tenaga kerja yang terserap mencapai 41 orang, seluruhnya merupakan pekerja lokal,” ucapnya.
Ia menjelaskan pengelolaan sumur minyak rakyat di Blora saat ini tersebar di sejumlah wilayah. Dari 16 kecamatan di Kabupaten Blora, terdapat sedikitnya 14 desa di berbagai kecamatan yang mengelola sumur minyak rakyat.
Wilayah tersebut antara lain Kecamatan Jepon, Bogorejo, Sambong, Kedungtuban, Randublatung, Todanan, Tunjungan, Japah, dan Ngawen, dengan rata-rata terdapat dua hingga tiga desa yang mengelola sumur minyak rakyat di setiap kecamatan.
Yudha mengaku bersyukur karena pengalaman pengelolaan sumur minyak rakyat di Blora mendapat perhatian dari daerah lain, termasuk pelaku usaha dari Sumatera Selatan.
“Kami bersyukur Kabupaten Blora bisa menjadi salah satu percontohan pengelolaan sumur minyak rakyat skala nasional,” ujarnya.
Ia berharap pertukaran pengalaman antardaerah tersebut dapat mendorong pengelolaan sumur minyak rakyat yang semakin tertib, aman, melibatkan masyarakat, serta memberikan manfaat bagi daerah dan mendukung ketahanan energi nasional. (RB)
















