RADARBLORA.COM,– Blora, Jawa Tengah – Sebuah terobosan berani diluncurkan di Kabupaten Blora untuk merevitalisasi perekonomian desa. Inisiatif ini mendorong Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai motor penggerak utama, dengan target ambisius menciptakan ribuan wirausaha ritel baru di akar rumput.
Kebijakan strategis ini diungkapkan oleh H. Abdullah Aminudin, Anggota Komisi B DPRD Jawa Tengah. Ia menekankan, kunci keberhasilannya terletak pada kemitraan yang dibangun di atas prinsip saling percaya dan saling menguntungkan antara BUMDes dan calon mitra usahanya.
“Sebagai pengusaha BUMDes, prinsip kita adalah bisnis yang saling menguntungkan dengan dasar saling percaya. Itu yang terpenting,” tegas Abdullah.
Skema “Tanpa Risiko” untuk Cetak Pengusaha Baru.
Yang membuat program ini berbeda adalah skema pendanaannya yang inovatif dan minim risiko bagi pengusaha pemula. Calon pengusaha ritel didorong membuka toko dengan estimasi modal awal Rp 80 hingga Rp 120 juta untuk rak dan komputer.
Yang mengejutkan, Abdullah memberikan jaminan keamanan penuh. “Kalau toko itu nanti dipandang tidak laku, tidak usah khawatir. Barang saya ambil semua, uang kembali 100%,” komitmennya dengan tegas.
Komitmen “uang kembali 100%” ini bukan tanpa alasan. Langkah ini lahir dari keprihatinan mendalam melihat banyaknya BUMDes di Jawa Tengah yang terbengkalai dan tidak berfungsi optimal.
“Ini lembaga yang sudah dibentuk, tetapi sampai hari ini banyak desa yang masih terbengkalai. Ini harus kita hidupkan!” seru Abdullah, menggambarkan urgensi dari program ini.
Target 1.500 Lapangan Kerja dan Dukungan Perbankan.
Dampak yang diharapkan dari gerakan ini sangat signifikan. Dengan target setiap BUMDes di 300 desa membina minimal 5 mitra usaha, diperkirakan akan tercipta 1.500 lapangan kerja baru.
“Lumayan, luar biasa, kan? Kita bisa mengangkat 1.500 orang untuk bekerja. Ini butuh dukungan dari para Kepala Desa,” imbuhnya.
Dukungan ekosistem juga datang dari perbankan. Bank Jateng disebutkan menawarkan program Agen Bank Duta tanpa modal, yang dapat menjadi peluang tambahan bagi para pengusaha baru ini.
Etika Bisnis dan Transformasi Pasar Tradisional.
Di balik semangat membangun, Abdullah juga menekankan pentingnya etika berusaha. Ia mengingatkan semua pihak untuk menerapkan prinsip fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan).
“Kita harus hidup bersama, saling menguatkan, tidak boleh malah merusak pasar. Jangan,” pesannya.
Kehadiran toko ritel modern BUMDes diharapkan bukan sebagai pesaing, melainkan mitra bagi toko-toko tradisional yang sudah ada untuk berbenah, meningkatkan efisiensi, dan bertransformasi.
Pada akhirnya, semua upaya ini bertujuan untuk membangkitkan kembali denyut nadi perekonomian desa dan mengembalikan marwah pasar-pasar tradisional yang kondisinya kerap memprihatinkan.
“Dengan semangat kebersamaan, kita wujudkan desa yang mandiri dan sejahtera,” tutup Abdullah penuh keyakinan.
Program di Blora ini menjadi perhatian nasional sebagai model pemberdayaan desa yang konkret, dengan jaminan unik yang berpotensi memacu optimisme dan partisipasi masyarakat langsung di tingkat desa. (YS)








