RADARBLORA.COM,– Pemerintah Kabupaten Blora melalui Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan terus mendorong para petani di wilayahnya untuk beradaptasi dengan kondisi lahan kritis dan curah hujan yang rendah. Sekretaris Dinas (Sekdin) DP4 Kab. Blora Lilik Setyawan, menjelaskan bahwa salah satu solusi jitu di musim tanam kedua (MT2) adalah penggunaan varietas padi umur pendek, yakni M70.
“Lahan kritis ini sudah diusahakan. Yang penting, kita pakai M70. Varietas itu sangat cocok untuk lahan yang kurang (tadah) hujan, atau di Blora dikenal dengan istilah bejo beji,” ujar Lilik dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).
Menurut Lilik, pada musim tanam kedua (MT2), ketersediaan air hujan seringkali kurang memadai. Akibatnya, petani rentan mengalami gagal panen. Oleh karena itu, pemilihan varietas yang berumur sangat pendek seperti M70 menjadi kunci utama.
“Tanam M70 ini tepat. Dia tanaman umur pendek. Saat hujan kurang di MT2, kita harus memilih tanaman yang ‘umur gila’ alias super cepat panen, ya M70 ini,” tegasnya.
Kurangi Pupuk Kimia, Perbanyak Pupuk Organik.
Selain soal varietas unggul, Lilik juga menyoroti kebiasaan petani dalam pemupukan. Pihaknya mendorong efisiensi pupuk kimia hingga 50-70 persen, asalkan diimbangi dengan penambahan pupuk organik.
“Ini penting. Penggunaan pupuk kimia dikurangi setengah hingga 70 persen, lalu ditambah dengan pupuk organik. Kita punya banyak bahan pupuk organik di Blora,” imbuhnya.
Ia mengajak seluruh petani di Bumi Samin ini suntuk tidak menyia-nyiakan potensi bahan organik yang melimpah. Alih-alih dibuang, bahan-bahan tersebut sebaiknya dimasukkan kembali ke lahan sawah.
“Petani Blora ayo dicontoh yang seperti ini. Kita punya bahan organik banyak, jangan dibuang. Masukkan pupuk organik ke lahan sawah. Dengan tanah yang subur, nanti hasilnya juga akan baik,” pungkas Lilik.
Dengan langkah adaptif ini, Pemkab Blora optimistis produktivitas pertanian tetap terjaga meski di tengah tantangan perubahan iklim dan keterbatasan air. (YS)











