RADARBLORA.COM,– Suara tangis tersendat dan lantunan kalimat penuh kesabaran “Sabar nggih, ini ujian” menggema di tengah kepulan asap yang masih tersisa di Dukuh Wadung, Desa Kedungtuban, Kecamatan Kedungtuban, Rabu 10 Juni 2026. Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini, tak kuasa menahan haru saat mendekap satu per satu warga yang kehilangan tempat berlindung.
Musibah kebakaran yang meludeskan sejumlah rumah pada Senin 8 Juni 2026 dini hari itu benar-benar menghancurkan perlahan-lahan wajah-wajah penuh sendu. Di tengah puing-puing hangus, Wabup Sri Setyorini bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Blora, Komang Gede Irawadi, jajaran OPD, Baznas, dan BPR BKK Blora, hadir tak sekadar memberi bantuan, tapi juga meneteskan air mata bersama.
“Kula nyuwun pangapunten, kulo mboten saget nggih nahan sedih. Nanging panjenengan sedoyo kedah kiyat. Sabar nggih, niki ujian saking Gusti,” ucap Wabup dengan suara bergetar saat berhadapan langsung dengan Satiran, pemilik rumah pertama yang menjadi sumber api.
Satiran, yang kehilangan rumah beserta warung pecel dan bengkel motornya, hanya bisa terdiam. Tangis istrinya pecah saat Wabup memeluknya erat. “Ibu, kulo mboten ngertos badhe miwiti saking pundi,” ujar istri Satiran sambil menyeka air mata. Wabup pun membisikkan doa dan semangat perlahan di telinganya.
Bantuan yang Datang Bersama Pelukan.
Di tengah duka, Pemerintah Kabupaten Blora bersama Baznas menyalurkan bantuan tunai: Rp7,5 juta untuk Satiran, dan masing-masing Rp5 juta untuk dua korban lainnya. BPR BKK Blora juga memberikan bantuan tunai peduli sosial, sementara paket sembako dari OPD Pemkab Blora diserahkan langsung ke pangkuan para ibu yang masih tercengang.
“Sekedhik mboten saget nggih nggih, nanging mugi-mugi nggih saget ngentosi tanggungan panjenengan sedoyo. Kulo jenengke ibu-ibu sedoyo kiyat,” tambah Wabup sembari membagikan sembako satu per satu.
Namun yang lebih menyentuh hati warga adalah ketika Wabup dan Sekda Komang ikut turun ke tenda darurat milik BPBD. Mereka duduk lesehan di atas terpal, mendengar cerita warga yang nyaris kehilangan segalanya. “Kulo mboten nyenyet nggenah nggih Bu, nanging kulo tetep bersyukur anak-anak kulo slamet,” ujar Yuliana, yang rumahnya ludes rata dengan tanah.
Gotong Royong dari Abu Kebakaran.
Kepala Desa Kedungtuban, Irwan Teguh Pamungkas, mengungkapkan rasa syukur di tengah kepedihan. “Kulo maturnuwun sanget. Warga kami sami gotong royong, resik-resik puing, lan mbangun malih. Tiyang kulo kiat-kiat sedoyo,” ujarnya.
Benar saja. Di belakang tenda darurat, tampak puluhan warga bahu-membahu membersihkan sisa-sisa bangunan hangus. Ada yang mengangkat kayu gosong, ada yang menyisir barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Suara khas warga Blora “guyub rukun” begitu terasa meski di bawah terik matahari.
Api Merambat Saat Semua Terlelap.
Peristiwa nahas terjadi Senin dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB. Api berasal dari dapur milik Satiran yang lupa mematikan kompor saat memasak nasi. Keluarga yang tertidur pulas tak menyadari si jago merah mulai menjilat dapur, lalu merambat ke warung pecel dan bengkel motor, sebelum akhirnya meludeskan rumah Yuliana dan merusak sebagian rumah Sudirman.
Warga yang panik berteriak membangunkan tetangga. BPBD, TNI, dan warga bahu-membahu memadamkan api hingga akhirnya berhasil dijinakkan sekitar pukul 04.00 WIB. Kerugian ditaksir mencapai Rp275 juta. Tak ada korban jiwa, tapi luka batin menganga lebar di hati para penghuni.
Harapan di Tengah Debu.
Sebelum meninggalkan lokasi, Wabup sempat mengelus kepala anak-anak kecil yang ikut kehilangan rumahnya. “Mas, Mbak, aja sedih ya. Ibu bakal bantu. Pokoke Blora ora bakal ninggalke sederek-ne dhewe,” katanya lembut.
Seorang bocah perempuan menatap polos sambil menggenggam erat boneka satu-satunya yang selamat dari kobaran api. Wabup memeluknya lama, membiarkan tangisnya luruh di bahu sang wakil rakyat.
Di sela-sela kepedihan, cahaya gotong royong tetap menyala. Bantuan terus berdatangan. Satiran dan warga lainnya kini mulai menyusun bata demi bata untuk bangkit kembali. “Sabar nggih, niki ujian. Mugi-mugi mbenjang saget langkung sae,” ucap Wabup mengakhiri kunjungannya, meninggalkan senyum kecil di wajah-wajah yang masih basah oleh air mata. (RB)











