RADARBLORA.COM,- Kabupaten Blora, Jawa Tengah, tak terbantahkan sebagai salah satu daerah penghasil komoditas kayu jati terbaik di Indonesia. Kualitas dan kuantitasnyapun diakui dunia. Bahkan, produk olahan kayu jati Blora telah menembus pasar lintas benua.
Mayoritas masyarakat Blora menggantungkan hidup sebagai perajin kayu. Salah satu perusahaan kayu di Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, membuktikan eksistensinya dengan berhasil menembus pasar internasional hingga ekspor ke Benua Eropa dan Afrika.
Widyasintha Cokronegoro, Direktur CV Wreksa Indonesia menjelaskan, bahwa pihaknya mengambil bahan baku dari supplier, kemudian memprosesnya melalui tahap finishing, pengamplasan, hingga pengemasan sebelum dikirim ke pasar ekspor.
“Kami mengambil dari supplier, lalu di sini diproses finishing, amplas. Setelah itu dipacking dan dikirim,” ujarnya Kamis (29/10/2026)
Meski tidak selalu rutin setiap bulan, pengiriman ekspor telah berjalan sekitar delapan tahun terakhir. Bahkan, hampir 90 persen produksinya dialokasikan untuk pasar ekspor, sementara pasar lokal hanya menyerap sebagian kecil.
“Rata-rata 90 persen pengiriman kami untuk ekspor semua. Lokal hanya berapa saja,” tegasnya.
Produk unggulan yang diekspor didominasi oleh akar kayu jati, yang menurut Widyasintha hanya terdapat di Blora. Hal ini menjadikan Blora sebagai pemasok utama akar jati bagi perajin di kota Jepara, Yogyakarta, dan Semarang.
“Akar cuma ada di Blora, jadi semua mengambilnya dari Blora. Seperti Jepara, Jogja, Semarang, pasti akar kayu Jati nya dari Blora,” paparnya.
Meski demikian, Widyasintha mengakui bahwa volume ekspor Blora masih kalah dibandingkan Jepara. Penyebabnya bukan pada kualitas, melainkan pada peralatan produksi yang masih manual.
“Jadi terbaik dunia, tapi ekspornya itu nggak seberapa dibanding Jepara. Kalau kita alatnya masih manual, Jepara sudah pakai mesin yang bisa diatur suhunya. Ini kalau kita ditinggal sebentar, suhu turun lagi,” keluhnya.
Senada, Manajer Produksi Abdul Mujib menambahkan bahwa pihaknya memperoleh bahan baku dari beberapa supplier dalam kondisi setengah jadi, bukan dari pendongkel langsung. Sejak awal tahun 2025, pengiriman telah menyasar sejumlah negara, termasuk Eropa (Belanda dan Austria), Amerika Serikat, Kanada, serta Australia dan Selandia Baru.
“Untuk kendala, faktor utama pasti cuaca dan alat-alat kita yang masih manual. Seperti oven yang menggunakan kayu bakar, masih manual,” ujarnya.
Abdul Mujib juga menyoroti persoalan harga yang dinilainya janggal. Menurutnya, para eksportir di luar Blora mampu menjual dengan harga sama meskipun Blora merupakan sumber material.
“Saya juga heran kenapa harga teman-teman eksportir di luar Blora bisa sama dengan kita, padahal kita sumber materialnya. Mungkin teman-teman supplier menjualnya lebih murah ke eksportir,” ungkapnya.
Ia pun berharap Pemerintah Kabupaten Blora, melalui program pengadaan barang, dapat memberikan dukungan nyata kepada UMKM setempat.
“Kita mohon kepada Pemkab Blora agar mensupport teman-teman UKM seperti kita. Saya harap Pemkab Blora peduli kepada UKM-UKM yang tergolong sangat tertinggal dari kota lain,” tegasnya.
Blora memang menyimpan potensi luar biasa sebagai pemasok kayu jati kelas dunia. Namun, tanpa dukungan teknologi, infrastruktur, dan kebijakan yang berpihak, potensi tersebut belum mampu dimaksimalkan. Sudah saatnya pemerintah hadir, bukan sekadar menonton, agar para perajin Blora dapat bersaing sejajar dengan daerah lain di panggung global. (YS)



















