RADARBLORA.COM,– Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Blora terus menunjukkan transformasi signifikan. Lembaga pemasyarakatan yang selama ini identik dengan keterbatasan, kini justru berbenah menjadi pusat produktivitas pertanian organik. Bahkan, hasil panen warga binaan dibidik untuk menembus pasar Jakarta.
Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini, secara tegas mendorong pengembangan budidaya padi organik di lingkungan rutan. Menurutnya, program ini bukan sekadar kegiatan pembinaan, tetapi juga bagian dari strategi ketahanan pangan nasional sekaligus peluang ekonomi yang menjanjikan.
“Saya juga penggemar produk organik. Bisa dicoba dulu di lahan kecil untuk padi organik. Pelatihannya dimulai dari pembuatan pupuk sendiri hingga proses penanaman, sehingga benar-benar tanpa bahan kimia,” ujar perempuan yang akrab disapa Budhe Rini itu.
Pernyataan tersebut disampaikannya usai menghadiri panen raya padi hasil program pembinaan kemandirian warga binaan di lahan pertanian Kelurahan Kauman, Kecamatan Blora, Kamis 11 Juni 2026. Lahan seluas 10.120 meter persegi yang digarap rutan itu terbukti produktif. Varietas padi M70 yang ditanam sejak 18 Maret 2026 lalu kini telah memasuki masa panen.
Budhe Rini optimistis langkah rutan ini memiliki prospek cerah. Bahkan, ia berjanji akan menjadi penghubung jika produksi padi organik Rutan Blora berhasil.
“Nanti kalau Rutan Blora bisa memproduksi padi organik, akan saya sampaikan kepada Pak Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan. Kalau berhasil, bisa didistribusikan ke Jakarta,” tegasnya penuh semangat.
Dirinya juga menyampaikan pesan dari Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, yang berhalangan hadir karena agenda di Semarang dan menerima kunjungan pejabat pusat. “Pak Bupati menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya. Semoga warga binaan yang nantinya kembali ke masyarakat dapat menjadi pribadi yang mandiri,” ucap Budhe Rini menirukan pesan bupati.
Bukti Nyata Transformasi Rutan.
Budhe Rini menegaskan, keberhasilan ini menunjukkan bahwa rutan tidak lagi menjadi tempat pasif. “Rutan hari ini bukan lagi tempat yang pasif, melainkan telah bertransformasi menjadi pusat pelatihan dan produktivitas. Ini bukti nyata karena di dalam rutan ada cabai, terong, kangkung, ayam, hingga padi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Tengah, Mardi Santoso, menilai program ini sejalan dengan Asta Cita Presiden dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Kegiatan ini juga merupakan implementasi program akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang mendorong sektor pertanian, perikanan, dan peternakan sebagai sarana pembinaan.
“Warga binaan tidak hanya dibekali keterampilan dan etos kerja sebagai bekal kembali ke masyarakat, tetapi juga turut menghasilkan produk pangan yang bermanfaat,” kata Mardi.
Kerja Sama Lintas Sektor.
Kepala Rutan Kelas IIB Blora, Sugito, menjelaskan bahwa kesuksesan ini tidak terlepas dari kerja sama multipihak. Pemerintah Kabupaten Blora disebutnya berjasa menyediakan lahan pertanian. Selain itu, Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blora serta PT Riset Perkebunan Nusantara juga aktif memberikan pendampingan teknis.
“Program pertanian ini tidak hanya menghasilkan produk pangan, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter, keterampilan, dan kemandirian warga binaan,” jelas Sugito.
Dengan target menembus Jakarta, Rutan Blora kini tak hanya berkutat pada pembinaan internal, tetapi telah melangkah lebih jauh: menjadi bagian dari rantai pasok pangan organik nasional. (RB)











